Author bio

Author Image

Karl May - book author

Karl Friedrich May (also Karol May) was one of the best selling German writers of all time, noted mainly for books set in the American Old West, (best known for the characters of Winnetou and Old Shatterhand) and similar books set in the Orient and Middle East. In addition, he wrote stories set in his native Germany, in China and in South America.

May also wrote poetry and several plays, as well as composing music; he was proficient with several musical instruments. May's musical version of "Ave Maria" became very well known.

Karl May is the author of books: Winnetou I: Kepala Suku Apache, Winnetou I - IV, Winnetou II: Si Pencari Jejak, Winnetou III: Winnetou Gugur, The Treasure of Silver Lake, Old Surehand 1, Old Surehand II, Winnetou IV: Ahli Waris Winnetou, The Oil Prince, Der Schut

Author Signature

Author Books

#
Title
Description
01
'Charley, seorang pemuda ingusan alias greenhorn dari Jerman yang menjadi narator trilogi petualangan ini bermaksud ingin melihat dunia. Maka merantaulah dia ke Amerika. Setibanya di St Louis, walau tidak berkekurangan secara materi, dia hanya bisa bekerja sebagai seorang guru privat saja. Untunglah, atas bantuan seorang pembuat senapan yang. bernama Mr Henry, tercapailah impiannya untuk berkunjung ke daerah Wild West dengan bekerja sebagai seorang surveyor perusahaan pembuatan jalan kereta yang membelah jantung Amerika Serikat.

Dengan dibimbing oleh Sam Hawkens, Charley akhirnya sedikit demi sedikit belajar menjadi seorang westman. Tapi pengalamannya itu benar-benar tidak acta artinya ketika kemudian pada suatu hari dia berjumpa dengan Winnetou, putra seorang kepala suku Apache. Dari Winnetou-lah, Charley, seorang pemuda dari dunia modern itu harus belajar dari seorang Indian yang dikatakan liar.

Charley yang kemudian bergelar Old Shatterhand juga terbukakan matanya, bahwa ternyata jalan kereta yang dibuat itu belum mendapatkan izin dari pemilik tanahnya yang syah, orang-orang Apache.

Inilah novel utama dari Karl May (1842-1912) yang merupakan buku pertama dari sebuah trilogi, yang mengangkat namanya menjadi salah satu penulis kisah perjalanan yang terdepan di dunia. Buku ini mengungkap juga tentang kepunahan fauna Amerika, bison dan mustang, dan yang penting perjuangan sang tokoh untuk membela orang-orang Indian yang menjelang punah. Buku tentang kemanusiaan ini berisikan ide tentang persahabatan antar ras, suku, pemeluk agama. Aktifis lingkungan hidup dan pembela warga yang tertindas hak-haknya kiranya perlu membaca buku ini.'
02
Karl May's most popular work originally published in 1892 and influenced by Harriet Beecher Stowe, Winnetou is the story of a young Apache chief told by his white friend and blood-brother Old Shatterhand. The action takes place in the U.S. Southwest, in the latter half of the 1800s, where the Indian way of life is threatened by the first transcontinental railroad. Winnetou, the only Native Indian chief who could have united the various rival tribes to reach a settlement with the whites, is murdered. His tragic death foreshadows the death of his people. May's central theme here, as in much of his work, is the relationship between aggression, racism, and religious intolerance.
03
Dalam usaha Old Shatterhand mencari keberadaan Winnetou yang menuju ke daerah Timur karena urusan yang maha penting, Old Shatterhand terperangkap badai hurricane di perairan Cuba.
Setelah terdampar di suatu pulau, akibatnya dia harus klontang-klantung di kota New York dan akhirnya melamar menjadi seorang detektif.

Dalam usahanya mencari Wiliam Ohlert, anak seorang Bankir yang mengidap penyakit jiwa, Old Shatterhand mendapat bantuan seorang pencari jejak kenamaan -Old Death- seorang pencandu (atau mantan pecandu?) narkotika. Old Shatterhand memang berjumpa dengan Winnetou, tapi sayang Winnetou saat itu tidak bisa menyapanya karena sedang dalam perjalanan rahasia untuk mengemban misi rahasia dari Benito Juarez, presiden Mexico yang keturunan Indian.

Mereka terjebak dalam keributan dengan para anggota organisasi rahasia KuKlux-Klan sebagai dampak langsung perang saudara antara pihak Utara clan Selatan yang sedang berkecamuk. Mereka bukan hanya berkutat di perbatasan Mexico, tapi bahkan masuk ke gurun Mapimi di Mexico. Old Shatterhand terpana setelah berkenalan dengan Old Firehand, yang juga seorang westman kenamaan, karena ternyata ada misteri kisah cinta segitiga yang juga melibatkan Winnetou.
Di buku ini terdapat juga puisi yang ditulis oleh orang yang sakit jiwa, yang ternyata tak lain tak bukan adalah refleksi dari kehidupan pribadi si Karl May himself!

Pada bagian kedua trilogi ini, Old Shatterhand juga menyimpulkan bahwa pada setiap perbuatan buruk yang dilakukan oleh para Indian, selalu saja ada kulitputih yang menjadi biang keladinya! Dan bagaimana dengan nasib si pecandu narkoba tadi?
04
"Dengar baik-baik, Fred, selama pengembaraan saya selalu berusaha sedapat mungkin tidak membunuh orang, karena darah manusia adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Saya lebih suka menanggung penderitaan daripada mengangkat senjata untuk membunuh. Dan itu pun hanya terjadi jika saya benar-benar berada dalam situasi paling kritis yang bisa merenggut nyawa saya. Lebih baik saya membuat lawan tak berdaya faripada harus mengambil nyawanya..."

"Kulit putih ibarat binatang piaraan yang terlatih dan nalurinya sudah tumpul, sedangkan orang Indian masih tetap seperti hewan liar yang bukan hanya mempunyai naluri tajam, melainkan juga bisa mengendus dan mendengar dengan hatinya. Hewan liar tahu pati jika kematiannya sudah mendekat. Malahan ia bukan hanya tahu, melainkan juga bisa merasakan kedatangannya. Kalau itu terjadi, maka ia akan pergi mengurung diri di dalam hutan lebat untuk mencari ketenangan dan menunggu detik-detik terakhir hidupnya..."

"Kamu tahu, saya mengenal banyak tempat yang mengandung emas, baik emas berukuran besar, seperti nuggets, maupun berupa butiran-butiran kecil. Saya hanya perlu menunjukkan satu tempat saja, maka kamu segera menjadi kaya, bahkan kaya raya, tapi setelahnya... kamu tak lagi bahagia. Manitou Agung yang bijaksana tidak menciptakan kamu agar terbuai di atas tumpukan harta..."
05
The 'Treasure of Silver Lake' is a literary treasure. Written by Karl May in 1891, when he was at the peak of his creativity. It was read by millions of avid adventure lovers and has never been out of print in its native language. Now you may enjoy this gripping adventure in English, thanks to the efforts of Herbert Windolf.
06
A note from his blood brother Winnetou calls Old Shatterhand to the desolate Llano Estacado. The Comanche are on the warpath and with hundreds of warriors plan to attack Bloody Fox' secret oasis hideaway in the desert. During his ride Old Shatterhand crosses paths with Old Wabble, the legendary 'king of the cowboys' and together they rescue Old Surehand from the clutches of the enemy Indians. Old Shatterhand realises that Old Surehand is at the centre of a desperate secret when he has an eerie encounter with an insane squaw in Kaam-Kulano. The adventure turns complicated when a detachment of mounted white soldiers becomes involved, but together Winnetou, Old Shatterhand, Old Surehand, and Bloody Fox repel the Comanche attack by cunning and subterfuge. When the cactus trap falls shut behind the enemy Indians, a new friend joins them-Apanatshka, a mysterious Comanche chief; but the other companion, Old Wabble, turns from friend to foe when a scoundrel known as the 'general' appears in the oasis.
07
Nach Überwindung vieler Gefahren lichtet sich nun das Dunkel um Old Surehands Vergangenheit. Old Shatterhand und Winnetou ziehen mit ihren Begleitern, unter ihnen die "Verkehrten Toasts" Dick Hammerdull und Pitt Holbers, hinauf ins Felsengebirge, wo alle Fäden zusammenlaufen.
08
“Saya Winnetou. Saya disebut Kepala Suku Apache. Saya menulis untuk suku saya. Dan saya menulis untuk semua, segenap umat manusia di pelosok bumi. Kiranya Manitou yang Mahaagung dan Mahabaik merentangkan tangannya ke atas suku ini dan ke atas semua orang yang berkehendak baik dengan mereka!” ...

“Sebuah benih ajaib telah disemaikan Old Shatterhand ke dalam hati saudaranya Winnetou. Benih itu akan menghasilkan buah-buah lezat. Kembang-kembangnya akan menebarkan harum semerbak tiada henti. Dan tunas-tunas dari bijinya tak akan berhenti bertumbuh. Bukan dalam hitungan jam, dalam beberapa menit lagi seluruh musuh kalian akan memohon untuk diterima ke dalam klan Winnetou. Apa keinginan mereka akan dikabulkan?” ...

Tigapuluh tahun setelah kematian Winnetou, Old Shatterhand menerima surat yang misterius, baik dari teman atau lawannya. Ia tidak bisa mengelak dan terpaksa memenuhi tantangan berduel dari musuh bebuyutannya seperti Tangua, Kepala Suku Kiowa, ataupun To-kei-chun, Kepala Suku Comanche Racurroh. Rupanya, arwah Santer si pembunuh ayah dan adik Winnetou itu-- juga ikut membayanginya. Dunia serasa berhenti berputar ketika ia harus mengunjungi Nugget-tsil alias Gunung Emas, tempat surat wasiat Winnetou disembunyikan. Ia juga harus mengunjungi kembali Danau Kelam, tempat emas Winnetou tenggelam di danau itu.

Inilah buku terakhir dari Tetralogi Winnetou, karya pamungkas Karl May yang berbicara tentang perdamaian dunia dan kesetaraan di antara bangsa-bangsa. Ditulis pada 1908 dan diterbitkan sebagai buku pada 1910, tapi isinya rupanya masih relevan untuk masa kini, 100 tahun kemudian.

(Diambil dari http://www.indokarlmay.com)
09
Karl May's works have shaped a uniquely European version of the post-Civil war American West. Rarely out of print since the late 1890s. his beloved novels are a true phenomenon in Europe and have been adapted for the stage, movies, and comic books. In The Oil Prince (Der Olprinz) May created another multicultural adventure full of excitement, villainy, and courage--sprinkled throughout with a Germanic twinkle of comic relief. Beautifully illustrated, this action-packed "travel" tale is set in the late 1860s in Old Arizona where danger abounds and survival is dependent on having the fastest draw and the sharpest wits. This Teutonic take on the Wild West features May's revered hero, Old Shatterhand, his Apache blood brother Chief Winnetou, ruthless bandits, Indian tribes on the warpath, a band of naive German immigrants, and a dangerous crook ("the Oil Prince") who intends to con a fortune from a gullible banker. The Oil Prince is a companion piece to Winnetou, translated by David Koblick and published by the WSU Press in 1999.
10
Nach Abenteuern in der Teufelsschlucht und bei der Juwelenhöhle treffen Kara Ben Nemsi und seine Begleiter auf das Oberhaupt der Verbrecher, den Schut. Manche gefährliche Situation wird heraufbeschworen, ehe die Jagd, die in der tunesischen Wüste begann, in Albanien zu Ende geht. Der Schut gehört zu einer sechsteiligen Reihe. Weitere Bände: Durch die Wüste (Band 1), Durchs wilde Kurdistan (Band 2), Von Bagdad nach Stambul (Band 3), In den Schluchten des Balkan (Band 4), Durch das Land der Skipetaren (Band 5).